Penyakit Mainstream dalam Novel Roman

konflik-fiksi

Kanker, amnesia dan skizofrenia adalah tiga jenis penyakit yang paling sering muncul dalam novel-novel roman (juga cerita-cerita genre lain, baik dalam karya tulis maupun drama televisi dan film). Bosan nggak sih?

Eits, nanti dulu. Kalau memang tema novelnya demikian, tentu tepat jika kita memberikan tokoh kita penyakit atau gangguan mental seperti itu. Penyakit yang mereka derita adalah bagian dari cerita, yang melatar belakangi konflik dan pengembangan karakter, yang membuat kisah bergerak maju hingga mencapai ending.

Agar tidak mainstream dan basi, coba deh kita berhenti menggunakan penyakit-penyakit semacam itu sebagai alasan yang mengada-ada dalam novel. Selain membuat pembaca muak, novelmu mungkin tidak bakal terbit karena editor akan segera membuang naskahmu ke recycle bin. Sayang banget kan?

Nah, berikut ini beberap penyakit mainstream yang lumayan basi untuk diangkat ke dalam novel.

Kanker

Salah satu contoh novel yang sukses dengan tema ini adalah The Fault in Our Stars karya John Green (yang juga sudah difilmkan dengan judul sama). Hazel Grace, tokoh utama sekaligus narator dalam novel ini diceritakan menderita kanker paru-paru. Dia bertemu dengan Agustus Waters, seorang penderita kanker tulang hingga salah satu kakinya harus diamputasi. Keduanya lantas bahu membahu memberi semangat hidup, dan cerita bergulir maju dengan latar belakang keterbatasan fisik kedua tokoh.

Nah, kalau ceritanya seperti ini sih, tidak ada masalah. Namun, bagaimana kalau penyakit semacam kanker dipaksa masuk ke dalam cerita? Misalnya untuk membunuh salah satu tokohnya, semata-mata agar muncul konflik atau bahkan untuk mengakhiri cerita? Sudah begitu, penyakit kankernya datang tiba-tiba lagi, padahal tadinya di awal cerita si tokoh sehat-sehat saja, bahagia, damai dan sentosa. Halooo, tahu kan penyakit seserius ini nggak muncul mendadak kayak masuk angin atau cacar air?

Terlebih lagi, ketika setting novelmu di zaman digital atau di kota besar, sangat aneh jika seseorang tidak mengetahui kanker yang dideritanya. Kisah basi yang sering digunakan penulis, misalnya, cowok dan cewek jatuh cinta tapi salah satunya kena kanker dan berusaha menyembunyikan karena tidak mau pasangannya menjadi sedih. Di akhir cerita, tahu-tahu dia meninggal dan membuat sang kekasih menyesal hingga ingin bunuh diri. Halah banget, nggak sih?

Di era informasi yang derasnya kayak hujan badai di bulan Februari ini, logikanya tidak mungkinlah lingkungan sekitar penderita kanker tidak melihat sama sekali perubahan fisiknya, apalagi pacarnya. Kalau memang ingin menjadikan kanker sebagai konflik atau hambatan utama dalam kisah cinta mereka, lakukan sedari awal. Bangun dunia yang membuat pembaca percaya bahwa kanker yang diderita sang tokoh itu nyata dan memengaruhi perkembangan kisah cinta keduanya. Bukan ujug-ujug meninggal.

Amnesia

Akrab kan dengan kisah romansa yang cowoknya kecelakan lalu menderita amnesia dan lupa pada kekasihnya? Lantas ada cewek lain yang mendaku sebagai tunangannya dan membuat kekasih sebenarnya sedih alang kepalang. Nah, pada saat si cowok dan si tunangan palsu ini hendak menikah, tiba-tiba amnesianya sembuh dan dia ingat semuanya sebelum kecelakaan. Dia lari meninggalkan si tunangan palsu yang sudah bergaun pengantin hanya untuk menemui kekasih sebenarnya.

Basi nggak sih kalau baca yang semacam ini? Dengan jutaan kemudahan akses di dunia maya, masa sih tidak ada rekam jejak digital yang bisa membuat si cowok sadar siapa kekasih sebenarnya? Coba deh mendapatkan ide untuk menggunakan amnesia secara efektif, misalnya dengan membaca novel I Am a Cheese dari Robert Cornier atau False Memory-nya Dan Krokos.

Skizofrenia

Sejak pandemi, tema-tema mental health issues memang seolah naik daun, baik dalam dunia fiksi maupun nonfiksi. Di antara semua tema mental health, skizofrenia paling sering diambil. Memang, skizofrenia kebanyakan digunakan dalam genre crime, thriller dan horor, tapi ada juga kok novel roman yang menggunakannya.

Sayangnya, banyak penulis yang salah kaprah menganggap skizofrenia sebagai penyakit mental yang hanya mengarah pada kesulitan membedakan khayalan dan kenyataan. Padahal skizofrenia bukan hanya tentang itu, ada banyak aspek dari penyakit mental ini. Di samping itu penyakit mental ada banyak sekali; obsessive compulsive disorder (OCD), post-traumatic stress disorder (PTSD), anxiety disorders, eating disorders, bipolar dan banyak lagi. Juga, seperti kanker atau jantung, penyakit mental tidak muncul tiba-tiba tanpa gejala.

Sekali lagi, bukan berarti tidak boleh menggunakan penyakit-penyakit mainstream sebagai latar belakang konflik, tapi coba deh buat kisah yang lebih fresh. Jangan malah menggunakan penyakit-penyakit tersebut sebagai jalan pintas. Setiap penyakit memiliki keseriusan yang bertingkat-tingkat, dan untungnya kita tidak perlu jadi dokter syaraf, ahli kejiwaan atau ahli medis lain untuk mempelajari dan menuliskannya dalam novel.

Buatlah sebanyak-banyaknya riset dari berbagai sumber terpercaya (jangan dari dukun, ya, hehe …) mengenai penyakit apa pun yang kamu pilih untuk diderita oleh sang tokoh. Dengan riset, kamu bisa meyakinkan pembaca sekaligus membuat mereka aware dan mendapat knowledge tentang penyakit tersebut. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui ini sih.


Demikian artikel penting tentang belajar menulis untuk pemula. Kalau ingin secara lebih lengkap belajar menulis, langsung saja gabung di AkademiMenulis.id, ya. Banyak sekali materi fundamental yang sudah tersedia di member area yang bisa menjadi bekalmu sebagai penulis profesional.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *