Stephen King; Penulis Novel Horor yang Penakut

stephen-king

Dalam banyak kesempatan, saya senang mencantumkan karya-karya Stephen King sebagai contoh. Bisa jadi ini subjektif, sebab saya penggemar beratnya. Di luar itu, Stephen King memang diakui dunia sebagai raja cerita-cerita horor, fiksi supranatural, suspense, fiksi ilmiah dan fantasi. Sebagian besar karyanya sudah diadaptasi menjadi film, serial TV, dan komik. Salah satu karyanya berjudul IT difilmkan ulang pada pada tahun 2017.

Novel IT sendiri saya baca ketika masih remaja. Gara-gara novel itu, tanpa sadar saya jadi mengembangkan kecenderungan coulrophobia (fobia pada badut) sampai sekarang. Stephen King benar-benar mampu mengirimkan pesan ketakutan melalui kata-kata, dan dalam kasus saya, ketakutan tersebut membekas hingga waktu yang lama.

Nah, apa ya kira-kira yang membuat Stephen King bisa sejago itu? Apakah bakatnya? Kelebihan sejak lahir? Keterampilan yang terus diasahnya? Kemampuannya mendongeng? Kreativitas? Imajinasi yang sangat jelas? Atau ada hal lain yang juga berperan?

Pennywise, tokoh badut dalam IT yang menyebar ketakutan. Sumber www.nme.com

Lahir pada 21 September 1947 di Maine, Portland Maine, Stephen adalah anak kandung dari Donald King dan Ruth Pillsbury. Dia dibesarkan dalam keluarga sederhana bersama kakak angkat laki-lakinya, David. Suatu malam, sang ayah mengatakan ingin keluar merokok sebentar, tapi setelahnya dia tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Ditinggal kabur begitu saja oleh suaminya, Ruth kemudian membesarkan sendiri David dan Stephen, yang waktu itu baru berusia tiga tahun. Mereka tinggal berpindah-pindah ke banyak negara bagian selama beberapa tahun, hidup berdasar belas kasihan para kerabat, sebelum akhirnya kembali ke Maine.

Sejak usia balita, Stephen takut akan banyak hal. Dia takut pada gelap, ular, tikus, laba-laba, ruang tertutup, takut tersedak, takut akan kematian, takut terbang, dan sebagainya. Dia selalu tidur dengan lampu kamar menyala, dan kerap membayangkan ada seekor monster yang hidup dalam lemari pakaiannya.

Ketakutan dan imajinasi Stephen tersebut bisa jadi berawal dari sebuah peristiwa traumatis masa kecil, ketika dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri seorang temannya mati tertabrak kereta api. Namun, bisa juga karena pengaruh ibunya yang sangat menyukai kisah-kisah horor.

Pada masa itu, ada sebuah acara ‘horor’ di radio yang sangat disukai oleh Ruth. Sang ibu sebenarnya melarang Stephen mendengarkannya karena dianggap terlalu menakutkan untuk anak kecil, tapi suatu waktu rasa ingin tahu Stephen mendorongnya untuk menyelinap keluar kamar dan mendengarkan acara radio tersebut. Setelah itu, dia kembali ke kamar tidur dengan tubuh menggeligis ketakutan. Untuk menenggelamkan ketakutan-ketakutan tersebut itu dari pikirannya, Stephen mengusirnya dengan menulis.

Sebagai single parent, Ruth mendorong Stephen dan David untuk banyak membaca buku. Dia memberikan buku-buku menarik dan meminta mereka untuk saling membacakan. Setelahnya, sang ibu akan mengajukan pertanyaan untuk mengkonfirmasi bahwa mereka telah membaca buku-buku itu.

Ketika Stephen menderita campak dan infeksi telinga di usia enam tahun, dia menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar dan membaca puluhan buku komik serta novel – semuanya dalam genre horor, fiksi ilmiah, dan misteri. Ini kelihatannya menjadi titik penting dalam kehidupan Stephen King yang mengarah pada pengembangan imajinasi dan kemampuan bercerita. Salah satu keahlian Stephen yang paling menonjol memang storytelling.

Kesukaan Stephen membaca buku, perlahan-lahan mendorongnya untuk mulai rutin menulis. Awalnya, ia menyalin beberapa cerita dari komik yang dia baca dengan sedikit modifikasi di sana-sini. Kegiatan membaca dan menulis ini membuatnya bisa melepaskan semua ketakutan tak masuk akal juga menyembuhkan traumanya.

Suatu hari, dia menunjukkan salah satu cerita tersebut kepada ibunya. Ibunya terpesona tetapi sedikit kecewa ketika mengetahui bahwa Stephen menyalin cerita dari komik. Dia lantas mendorong Stephen untuk menulis sendiri karena yakin bahwa anaknya bisa melakukan dengan lebih baik. Sang ibu menanamkan gagasan bahwa Stephen adalah anak dengan bakat mendongeng yang istimewa.

Akhirnya, Stephen menulis cerita tentang empat hewan ajaib yang berkelana naik mobil, dan kemudian menunjukkannya kepada ibunya. Sang ibu begitu senang dan bahkan mengirimkan salinan cerita itu kepada kerabat dan teman-temannya. Tindakan itu membuat Stephen sangat bahagia dan merasa dihargai. Setelah itu, dia terus menulis beberapa cerita pendek dan, dibantu ibunya, dia menjual cerita itu seharga seperempat sen. Uang pertama yang dia hasilkan dalam bisnis penulisan semakin memotivasinya.

Semasa SMA, David dan Stephen berinisiatif mendirikan sebuah surat kabar berjudul ‘Dave’s Rag’ untuk mencari uang tambahan. Stephen menulis cerita dan artikel lain untuk majalah itu, sementara David merekayasa drum-press dengan komponen yang tersedia dan mengembangkan mesin cetak sendiri. Mereka menjual surat kabar lokal tersebut ke teman-teman sekolah dan tetangga. Sirkulasi penjualan semakin lama semakin meningkat. Kedua King menjadi terkenal di kalangan penduduk desa Maine.

Karya-karya horor Stephen King sangat mendunia. Sumber www.tornightfire.com

Pada pertengahan 1950-an, acara fiksi ilmiah, horor, kriminal, dan misteri sedang naik daun di program-program televisi. Di sisi lain, antara tahun 1948-1962, Hollywood merilis lebih dari 500 film fiksi ilmiah dan 20 film horor setiap tahun. Stephen sangat tertarik dan menghabiskan banyak waktu untuk menonton acara televisi dan film-film Hollywood tersebut. Film horor dan fiksi ilmiah, petualangan, dan cerita kriminal-fiksi memenuhi imajinasi Stephen dan meningkatkan kemampuan mendongengnya.

Pada 1960-an, Stephen menemukan sebuah kotak di gudang rumahnya. Kotak itu berisi banyak slip penolakan dari majalah yang ditujukan kepada ayahnya. Ternyata, sang ayah yang tak pernah dikenalnya itu adalah seorang penulis bercita-cita tinggi dan telah mengirimkan banyak ceritanya ke majalah. Stephen menanyakan hal ini kepada ibunya, juga tentang kemampuan menulis ayahnya. Ibunya menjawab “Ayahmu tidak memiliki ketekunan. Itu sebabnya dia meninggalkan kita.” Kata ‘ketekunan’ inilah yang terus terngiang-ngiang di telinga Stephen.

Sejak itu, Stephen mulai mencoba mengirimkan cerita-ceritanya nya sendiri ke majalah dan mendapat banyak penolakan. Namun, tidak seperti ayahnya, Stephen tidak pernah berhenti mengirim naskah. Dia tidak ingin senasib dengan ayahnya, dan bertekad untuk sukses mempublikasi tulisannya.

Selesai kuliah, Stephen menikah dan bekerja sebagai guru bahasa Inggris dan beberapa pekerjaan serabutan di sana sini untuk menunjang keluarga. Selama priode ini, dia tetap berusaha menulis walaupun kelelahan setelah seharian bekerja keras. Suatu hari, Stephen mendapat gagasan dan mulai menulis draf pertama cerita sepanjang tiga halaman. Ketika membaca ulang, dia merasa tulisannya jelek, meremasnya dengan kesal dan kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Keesokan harinya, ketika Tabby, istirnya, hendak membuang sampah, dia melihat kertas-kertas yang lusuh diremas-remas itu. Dia mengambil, merapikan dan membacanya. Tabby begitu terpesona oleh cerita tersebut. Pada saat Stephen pulang mengajar, dia memintanya untuk terus menulis cerita. Kisah yang ditulis Stephen hari itu, di kemudian hari menjadi novel sukses pertama dalam karier Stephen, berjudul Carrie. Buku tersebut terjual 30.000 eksemplar dan menghasilkan $200.000. Carrie benar-benar telah mengubah hidup seorang Stephen King.

Sepanjang karier kepenulisannya, Stephen King sudah menghasilkan:

  • 62 novel, termasuk 7 dengan nama pena Richard Bachman
  • 5 buku non-fiksi
  • lebih dari 200 cerita pendek, yang sebagian besar telah dikumpulkan dalam koleksi buku
  • lebih dari 50 novelnya diadaptasi menjadi film layar lebar, acara televisi dan serial komik

Dalam kehidupan setiap orang sukses, peluang luar biasa yang tersembunyi, memainkan peran penting. Masyarakat, budaya, orang-orang di sekitarnya, orang tua, guru mempengaruhi kesuksesan dan membentuk persepsi pandangan dunia individu. Terkadang di mana dan kapan kita tumbuh memberikan dampak besar pada kehidupan individu.

“Sukses adalah buah dari akumulasi ketekunan.”

Malcolm Gladwell

Apakah kamu setuju?


Demikian artikel penting tentang sosok inspiratif dalam dunia penulisan. Kalau ingin secara lebih lengkap belajar menulis, langsung saja gabung di AkademiMenulis.id ya. Banyak sekali materi fundamental yang sudah tersedia di member area dan bisa menjadi bekalmu sebagai penulis profesional.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *