Teknik Rahasia: CAMOJA

Mamaku adalah pejuang kehidupan yang tak pernah mengeluh. Di balik setiap gulita yang menyapa kehidupan kami, senantiasa ada mentari yang terbit dari ufuk matanya yang membuat hari-hari kami ceria kembali.

Mamaku bernama Wahyuning Setyaningsih. Mama adalah tipikal seorang ibu rumah tangga yang gesit, teliti, dan juga periang. Walau keadaan keluarga misalkan sedang dalam keadaan yang sedang kurang bisa memberikan kebahagiaan, namun Mama selalu menyembunyikan perasaan itu. Dan senantiasa terdepan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan di rumah.

Mama adalah sosok yang memang pas untuk menjadi pendamping Papa.

Papa yang begitu fokus bekerja dan menjadi kepala keluarga dengan segala tanggung jawab besarnya, Mama fokus mengurus keadaan rumah dengan begitu sempurnanya untuk menambal bagian-bagian yang tak bisa Papa hadapi.

Sebagaimana sudah saya ceritakan di awal, segala hal pengaturan yang ada di rumah, semuanya diurus oleh Mama. Mulai dari urusan hal-hal kecil seperti kebersihan rumah, juga hingga hal krusial seperti pengaturan keuangan.

Sejatinya, tak mudah untuk mengatur keuangan yang tak seberapa itu agar tetap bisa kami nikmati berdelapan di dalam satu rumah. Gaji Papa tak seberapa, tetapi tinggal di kota besar dan anaknya berjumlah enam. Hingga kini aku berpikir, betapa hebatnya Mamaku ketika itu. Bayangkan, mengurus satu hingga dua anak saja sudah begitu sulitnya, tetapi Mama mengurus enam anak, dan harus memastikan mereka semua dalam keadaan tak kelaparan, kebutuhan primernya terpenuhi, serta kebutuhan pendidikan dan juga perkembangan sisi emosionalnya baik-baik saja.

Bisa saya bilang, di rumah kami sangat jauh dari amarah. Papa sangat jarang sekali memarahi kami. Selain Papa yang memang jarang berbicara dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan keteladanan kepada kami lewat kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan.

Bisa dbilang, sangat susah untuk menilik apa saja hal-hal buruk yang Papa miliki. Papa begitu bertanggung jawab dengan keluarganya dan juga tak pernah melakukan hal-hal aneh di luar rumah. Jangankan melakukan hal-hal aneh di luar rumah, Papa justru adalah tipikal orang rumahan.

Apalagi Mama. Sifatnya yang begitu lembut nan penyayang, benar-benar menghipnotis kami. Mama juga seperti Papa, sangat jarang memarahi kami. Apalagi harus bermain fisik untuk memberitahukan kepada kami ketika ada hal yang salah.

Apa yang Mama lakukan?

Mama cukup menatap kami dengan bola matanya yang indah nan tajam. Dan kami semua akan terdiam. Untuk tahu bahwa apa yang kami lakukan tak seharusnya dilakukan.

Sesederhana itu cara Mama mengingatkan keteledoran-keteledoran kami.

Mama juga merupakan sosok pesulap di dapur.

Ia begitu lihai menyulap makanan sederhana menjadi santapan yang demikian lezat. Sayur-mayur sederhana seperti bayam, kangkung, terong, pare, labu, serta lauk-pauk yang juga sederhana seperti tempe, tahu, ikan asin, entah mengapa semuanya membuat kami begitu terpukau dengan hasil olahannya.

Bagi Mama, dapur adalah kerajaannya sekaligus laboratoriumnya. Dari sana, penghasilan Papa dibelanjakan bahan-bahan masak yang diolah sedemikian rupa, sehingga menjadi energi yang besar bagi kami anak-anaknya untuk belajar.

Di rumah, Mama adalah sosok yang bangun paling pagi. Sudah bergerak dan berkreasi di dapur. Menanak nasi, memotong sayuran, mencuci peralatan makan, memasak air, membuat sarapan. Tangan Mama begitu lincah membersihkan, meramu, dan menyiapkan kebutuhan kami di pagi hari agar kami dapat mengarungi seharian dengan penuh antuasiasme. Dari kesibukannya di pagi hari itu, Mama bagai membunyikan musik indah untuk kami nikmati bersama.

Mama sangat mencintai perannya sehari-hari, sebagai istri, juga Mama. Istirahatnya Mama adalah ketika kami berhasil melewati seharian dengan begitu derasnya, kemudian berkumpul bersama di malam hari, untuk makan bersama, sambil bercerita kegiatan kami seharian. Di sana, Mama akan menatap kami dengan tatapan kasih sayang yang berharga. Kami bersekutu merajut rona-rona kebahagiaan menjadi satu ikatan dalam sebuah kegiatan bernama makan malam.

Dalam satu kata yang utuh, Mama benar-benar pejuang hidup yang tak pernah mengeluh, mengomel, dan juga memandang kehidupan dari sudut pandang yang indah dan positif.

Sejatinya, Mama adalah sosok yang kurang bagus dengan latar belakang pendidikan. Hanya sampai kelas 2 sekolah Mandarin saja. Jadi, ketika menikah dengan Papa, Mama sebenarnya belum bisa baca-tulis. Sesudah menikah lah, Papa yang mengajari Mama untuk membaca dan menulis.

Tetapi, hal itu tak mengurungkan Papa untuk tak mencintai Mama secara luar biasa, dan tak juga membuat Mama minder. Ketika tahun-tahun itu, hal-hal seperti itu lumrah terjadi kepada perempuan untuk tidak mendapatkan pendidikan yang cukup layak seperti sekarang. Maklum, keadaan negara kita belum semaju dan seterbuka seperti saat ini.

Mungkin Papa memang jatuh cinta dengan Mama karena paras ayu dan juga sikapnya yang baik alias tak neko-neko. Cocok untuk dijadikan pendamping hidup, dan menikmati hari demi hari sembari menyiapkan visi untuk masa depan anak-anak.

Walaupun Mama memiliki latar belakang pendidikan yang rendah, namun Mama memiliki kasih seorang ibu yang begitu mengangkasa. Tak hanya itu, kepiawaian dalam mengatur keuangan menurutku adalah poin tersendiri, karena harus memutar uang tak tak seberapa itu agar bisa dinikmati kami berdelapan dalam satu rumah tersebut.

Salah satu kecerdasan Mama yang menurutku unik adalah strategi Mama untuk menghutang di arisan untuk membeli seragam kami. Mengapa? Karena harga seragam yang ringan, jadi Mama memilih untuk berhutang di arisan, dan mencicilnya secara rutin, agar pengeluaran untuk membeli seragam tidak menggangu pengeluaran utama, seperti untuk makan, membayar listrik, biaya pendidikan, dan sebagainya.

Menurutku, itu adalah strategi cerdik Mama yang patut kuacungi jempol. Cara-cara pengaturan keuangan seperti itulah yang membuat kehadiran Mama terasa sangat penting dalam keluarga. Walaupun kami tak miskin-miskin sangat, namun kami juga tak berkelebihan. Kami begitu pas namun tetap sederhana dan apa adanya. Bahkan, bisa dibilang, kami tak memiliki hutang yang begitu mengkhawatirkan. Hutang-hutang kami hanyalah hutang-hutang yang sifatnya sangat memungkinkan untuk dibayar. Bukan hutang-hutang dalam jumlah mengerikan yang membelalakkan mata dan mengkhawatirkan jiwa atau menggelisahkan tidur saat malam meraja.

Sejak kecil, Papa dan Mama selalu mengajari kami untuk tak meminta-minta kepada orang lain. Kami dibiasakan untuk mandiri, mensyukuri apa yang ada di depan mata kami, dan berusaha dengan tangan kami sendiri. Kami diberikan keteladanan untuk tak pernah menjadi beban bagi keluarga besar, baik keluarga dari pihak Papa maupun keluarga dari pihak Mama.

Bahkan, ketika suatu kali kami sedang dalam keadaan yang hemat sehemat-hematnya, kami tak dibiasakan untuk mengeluh dan meminta bantuan keluarga besar. Kami memilih untuk berdikari, menikmati apa yang ada, sembari melakukan strategi-strategi yang diperlukan untuk mencari solusi.

Misalkan, saat kondisi kami memang sedang berhemat seperti itu, ketika kami ingin membeli lauk yang agak enak, seperti sate, maka Mama akan membelikannya dan dengan sedikit rayuan kepada penjualanya, Mama meminta kuah satenya agar diperbanyak. Dengan begitu, kami berdelapan tetap bisa makan sate dengan kuah yang agak melimpah.

Yah, itulah seni kehidupan dalam rumah tangga. Kehadiran Mama dalam kehidupan Papa memang membawa banyak sekali hal-hal baik yang ikut menjadikan keluarga kami yang sederhana ini terus memiliki dinamikanya yang mengesankan.

Tak hanya itu, salah satu kehebatan Mama juga adalah ikut membantu Papa mencari nafkah, walaupun tak besar memang jumlah pemasukannya. Apa yang dilalukan Mama? Menjahit daster. Dari satu daster ke daster lainnya, Mama secara ajaib tak pernah kehabisan pesanan, padahal tak pernah pasang plang nama di depan rumah. Semua berjalan begitu alami. Dari mulut ke mulut.

Papa dan Mama juga senantiasa mengajarkan untuk kami anak-anaknya, walaupun berbeda Mama, namun harus senantiasa rukun dan saling kompak tolong-menolong antara satu dengan yang lainnya. Itulah mengapa, ketika yang paling besar sudah bisa menghasilkan uang, ia akan begitu rela hati untuk membantu biaya pendidikan adiknya. Begitu juga seterusnya. Kami bahu-membahu membantu untuk mewujudkan keluarga yang harmonis dan juga memiliki tingkat pendidikan yang setinggi-tingginya.

Karena kami yakin, hanya pendidikan lah yang bisa membuat garis nasib kami lebih baik ke depannya. Itulah mengapa, Mama dan Papa selalu mewejangi kami, untuk fokus kepada pendidikan kami masing-masing. Walaupun misalkan dalam prosesnya kekurangan dana, Papa dan Mama akan terus mengusahakannya, sehingga kami bisa berfokus untuk menyelesaikan pendidikan kami agar menjadi sosok manusia yang berhasil suatu saat nanti.

Dengan kolaborasi yang begitu indah antara Papa dan Mama serta keajaiban dari Tuhan, 5 anak berhasil menjadi sarjana dan 2 di antaranya bergelar Master (S2). Menurutku itu adalah hal yang begitu istimewa, mengingat masa itu, bisa menyelesaikan tingkat strata satu adalah hal yang tak semua orang bisa, karena menyangkut sisi finansial dan juga kecerdasan dari si anak itu sendiri. Bahkan, anak-anaknya menyelesaikan pendidikannya di kampus-kampus ternama, seperti Universitas Gadjah Mada atau Institut Teknologi Bogor.

Bukankah hal itu adalah sebuah anugerah yang begitu indah dan megah?

Jadi, dari pola pendidikan Papa dan Mama yang sederhana namun begitu disiplin dan banyak sekali melahirkan nilai-nilai kehidupan itu, sejatinya telah melahirkan anak-anak dengan kualitas pendidikan yang tak perlu diragukan lagi. Dan hingga detik ini, saya senantiasa berterima kasih kepada Papa dan Mama karena telah menjadi sosok yang tak hanya menginspirasi kami anak-anaknya dalam banyak hal kebaikan, namun juga bekerja sangat keras dan disiplin untuk mengantarkan kami meraih impian-impian kami.

Hal-hal yang diwariskan oleh Papa dan Mama itulah yang terus membekas dan menjadi semacam kompas bagiku untuk menjalani kehidupan. Karena bagiamanapun, saya selalu percaya, bahwa peran orang tua atau keluarga bagi anak sangat vital. Mereka akan menurunkan pola pikir, sudut pandang, karakter, serta nilai-nilai yang pada akhirnya akan membentuk sikap anak mengenai banyak hal, termasuk caranya dalam melihat dunia ini dan bagaimana caranya dalam merengkuh kesuksesan.

Anak yang lahir dalam kondisi keluarga yang berantakan, akan melahirkan generasi yang bisa dikatakan jauh dari kondisi kebaikan. Untung saja saya lahir dalam keluarga yang begitu mengutamakan keharmonisan, pendidikan, dan juga luwes dalam menerapkan prinsip-prinsip kehidupan. Sehingga, saya menjadi produk manusia yang memiliki pikiran terbuka dan juga senantiasa bisa menempatkan diri pada waktu dan situasi tertentu, serta memiliki pikiran yang terbuka untuk terus mengawal diri menuju impian yang sudah kutetapkan.

Bisa dikatakan, saya menjadi seperti saat ini, adalah peran besar dari Papa dan Mama. Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya, karena proses pembelajaran itu sendiri akan berjalan secara langsung setiap harinya. Dan pola pendidikan yang baik dalam sebuah keluarga, akan melahirkan kualitas anak-anak yang akan membanggakan dan gemilang di masa depannya.

Bisa saya katakan, Papa dan Mama berhasil mendidik kami, keenam anaknya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *